SMP NEGERI 2 MARGASARI MEMBANGUN EMPAT KIOS KANTIN SEKOLAH BARU YANG LEBIH REPRESENTATIF

Kantin adalah salah satu fasilitas penting yang ada di SMP negeri 2 Margasari. Di sanalah sebagian besar siswa SMP negeri 2 margasari dapat membeli makanan atau minuman.   Adapun kantin yang ada di SMP negeri 2 Margasari berjumlah dua buah. Kedua kantin tersebut berada di belakang gedung sekolah.

Sebagai fasilitas penting, kantin sekolah yang ada saat ini dipandang tidak layak. Disamping keberadaannya yang terlalu dekat dengan kamar mandi siswa, kantin ini juga kumuh dan becek pada musim hujan.

Selain di kantin sekolah, sebagian siswa juga membeli makanan atau minuman pada para pedagang lain yang banyak berjualan di depan gedung sekolah yang kebetulan keberadaanya ada di pinggir jalan raya. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi siswa.

Mengingat hal tersebut di atas, maka sekolah dengan komite sekolah sedang membangun empat kios kantin baru. Pembangunan kantin ini telah dilaksanakan sejak pertengahan Juni 2019 dan diharapkan selesai pada akhir Agustus 2019. Kantin ini dibangun dengan dilengkapi fasilitas tempat duduk yang sangat nyaman dan rindang. Selain membangun beberapa kios untuk kantin sekolah, sekolah dan komite sekolah juga menyediakan tempat bagi para pedagang yang ada di pinggir jalan raya tidak jauh dari kantin yang sedang dibangun, sehingga nantinya tidak ada lagi pedangang yang berdagang di sepanjang jalan raya. Muhajirin, S.Pd., M.Pd. selaku kepala sekolah mengatakan bahwa menjamin keamanan dan kenyamanan siswa baik dalam proses pembelajaran maupun ketika membeli jajanan pada saat istirahat adalah tanggung jawab sekolah.

PENDIDIKAN KARAKTER

Kegiatan Jumat Rohani

Demi suksesnya penyelenggaraan pendidikan karakter di Indonesia  presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Jokowi berharap Perpres ini mampu memberikan dasar yang kuat bagi generasi muda agar terbentengi dari pengaruh budaya luar. Dengan Perpres ini pula diharapkan pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota mempunyai payung hukum yang jelas untuk memberikan bantuan dari APBN ataupun APBD terkait penguatan pendidikan karakter.

Anggaran untuk menopang program penguatan pendidikan karakterpun digelontorkan. Jumlah anggaran yang digelontorkan sangat fantastis, yaitu mencapai Rp 400 trilyun. Tidak cukup dengan penggelontoran dana, pemerintah baik pusat maupun daerah juga mengeluarkan berbagai regulasi sebagai pelengkap. Kurikulum yang dianggap sebagai petunjuk arah pendidikan tak luput dari sorotan. Pemerintah mulai mengadakan perubahan dan perbaikan kurikulun pendidikan dari CBSA, kurikulum 2006 atau KTSP, hingga kurikulum 2013. Bahkan sejak penandatangan perpres Nomor 87 Tahun 2017 oleh presiden Joko widodo, pendidikan karakterpun banyak diperbincangkan. Mulai dari seminar tingkat nasional sampai seminar tingkat lokal, dari talk show para akademisi dan praktisi pendidikan sampai obrolan ringan masyarakat.   

Sayangnya segala upaya pemerintah tidak serta merta memperoleh hasil yang signifikan. Terbukti banyak kasus kenakalan remaja adalah kalangan pelajar. Tawuran antar pelajar tidak saja terjadi di kota-kota besar namun sudah merambah hingga di pelosok desa. Penggunaan narkoba, dan kekerasan seksual di kalangan remaja hampir setiap hari menjadi berita utama media, baik media cetak maupun elektronik. Bahkan data BNN cukup mencengangkan. BNN merilis data sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Angka tersebut kemungkinan meningkat kembali karena beredarnya sejumlah narkoba jenis baru.  

Pendidikan Karakter Seperti Apakah Yang Diharapkan

Dalam Undang-undang No.20, tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Cukup jelas bahwa undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional tersebut mengamanatkan bahwa institusi pendidikan tidak hanya menciptakan manusia yang cerdas atau pandai saja akan tetapi juga manusia yang memiliki nilai-nilai luhur.

Amanat ini tentu bukan amanat yang ringan bagi sekolah. Namun demikian sekolah bukanlah bengkel tempat memperbaiki mesin rusak yang bisa kita perlakukan semaunya. Sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses pembelajaran sekaligus pendidikan bagi seorang anak manusia di mana mereka adalah mahluk yang memiliki jiwa, perasaan, kemauan, naluri dan pikiran. Untuk membentuk karakter mereka tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Pembentukan karakter juga tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Mereka tidak saja hidup dilingkungan sekolah akan tetapi mereka hidup di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Penulis sebagai seorang guru bukan sedang melepas tanggung jawab akan tetapi inilah kenyataannya. Untuk membentuk karakter yang baik bagi anak didik butuh peran serta semua pihak, baik keluarga maupun masyarakat.

Parents Gathering Perkuat Pembentukan Karakter Anak Didik

Sebesar apapun dana yang telah digelontorkan pemerintah, dan sebesar apapun energi yang telah dikeluarkan para akademisi dan praktisi pendidikan terkait pembentukan karakter anak bangsa semuanya tidak berarti apa-apa tanpa kepedulian orang tua siswa. Untuk itu sekolah sebagai garda utama dalam  mengemban amanat pembentukan karakter perlu menggandeng orang tua siswa untuk bersama-sama peduli terhadap pendidikan karakter putra-putri mereka.  Sekolah tidak hanya mengundang orang tua siswa ketika sekolah membutuhkan bantuan dana atau ketika anak mereka tersandung masalah saja, akan tetapi secara periodik sekolah semestinya mengundang orang tua untuk bersama-sama memantau putra-putri mereka. Dalam hal ini tentu tidak bisa dalam satu waktu orang tua siswa diundang bersam-sama. Sekolah membuat jadwal untuk mengatur kapan dan orang tua siswa kelas berapa yang akan diundang secara bergiliran.

Dalam kegiatan Parents Gathering sekolah juga bisa mengundang narasumber untuk memberi bekal kepada orang tua siswa tentang bagaimana mendidik anak yang baik dan benar. Hal ini sangat bermanfaat sehingga tidak hanya anak yang memiliki karakter yang tangguh tetapi orang tua juga cakap dalam mendidik anak.